Selasa, 22 November 2011

BADAN INTELIJEN NEGARA INDONESIA




Badan Intelijen Negara, disingkat BIN, adalah Lembaga Pemerintah Non Departemen Indonesia yang bertugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang intelijen. Kepala BIN sejak 22 Oktober 2009 adalah Sutanto.


Sejarah Singkat


Badan Intelijen Negara, Institusi yang terkesan angker ini cikal-bakalnya ada di masa pendudukan Jepang, tahun 1943. Pada masa itu Jepang mendirikan versi lokal lembaga intelijen yang terkenal dengan sebutan Sekolah Intelijen Militer Nakano. Mantan tentara Pembela Tanah Air (Peta), Zulkifli Lubis merupakan lulusan sekaligus Komandan Intelijen pertama kaum republikan.

Paska kemerdekaan, Agustus 1945 Pemerintah Indonesia mendirikan badan intelijen republik yang pertama, yang dinamakan Badan Istemewa. Kolonel Zulkifli Lubis kembali memimpin lembaga itu bersama sekitar 40 mantan tentara Peta yang menjadi penyelidik militer khusus.

Setelah memasuki masa pelatihan khusus intelijen di daerah Ambarawa, awal Mei 1946 sekitar 30 pemuda lulusannya menjadi anggota Badan Rahasia Negara Indonesia (Brani). Lembaga ini menjadi payung gerakan intelijen dengan beberapa unit ad hoc, bahkan operasi luar negeri.

Juli 1946, Menteri Pertahanan (Menhan) Amir Sjarifuddin membentuk Badan Pertahanan B yang dikepalai seorang mantan komisioner polisi. Alhasil 30 April 1947 seluruh badan intelijen digabung di bawah Menhan, termasuk Brani menjadi Bagian V dari Badan Pertahanan B.

Di awal tahun 1952, Kepala Staf Angkatan Perang, T.B. Simatupang menurunkan lembaga intelijen menjadi Badan Informasi Staf Angkatan Perang (BISAP). Tahun itu Wakil Presiden Mohammad Hatta dan Menhan Sri Sultan Hamengku Buwono IX menerima tawaran Central Intelligence Agency Amerika Serikat (CIA) untuk melatih calon-calon intel profesional Indonesia di Pulau Saipan, Filipina.

Akibat persaingan di tubuh militer, sepanjang tahun 1952-1958, seluruh angkatan dan Kepolisian memiliki badan intelijen sendiri-sendiri tanpa koordinasi nasional. Maka 5 Desember 1958 Presiden Soekarno membentuk Badan Koordinasi Intelijen (BKI) dengan Kolonel Laut Pirngadi sebagai kepala.

Selanjutnya, 10 November 1959, BKI menjadi Badan Pusat Intelijen (BPI) yang bermarkas di Jalan Madiun, yang dikepalai oleh DR Soebandrio. Di era tahun 1960-an hingga akhir masa Orde Lama, pengaruh Soebandrio pada BPI sangat kuat diikuti perang ideologi Komunis dan non-Komunis di tubuh militer, termasuk intelijen.

Intel Orde Baru Setelah gonjang-ganjing tahun 1965, Soeharto mengepalai Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib). Berikutnya di seluruh daerah (Komando Daerah Militer/Kodam) dibentuk Satuan Tugas Intelijen (STI).

Kemudian 22 Agustus 1966 Soeharto mendirikan Komando Intelijen Negara (KIN) dengan Brigjen. Yoga Sugomo sebagai kepala yang langsung bertanggung jawab kepadanya.

Sebagai lembaga intelijen strategis, maka BPI dilebur ke dalam KIN yang juga memiliki Operasi Khusus (Opsus) di bawah Letkol. Ali Moertopo dengan asisten Leonardus Benyamin (Benny) Moerdani dan Aloysius Sugiyanto.

Kurang dari setahun, 22 Mei 1967 Soeharto mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) untuk mendesain KIN menjadi Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin). Mayjen. Soedirgo merupakan Kepala Bakin pertama. Pada masa Mayjen. Sutopo Juwono, Bakin memiliki Deputi II di bawah Kolonel Nicklany Soedardjo, perwira Polisi Militer (POM) lulusan Fort Gordon, AS.
Sebenarnya di awal 1965 Nicklany menciptakan unit intel PM, yaitu Detasemen Pelaksana Intelijen (Den Pintel) POM. Secara resmi, Den Pintel POM menjadi Satuan Khusus Intelijen (Satsus Intel), lalu tahun 1976 menjadi Satuan Pelaksana (Satlak) Bakin dan di era 1980-an kelak menjadi Unit Pelaksana (UP) 01.

Mulai tahun 1970 terjadi reorganisasi Bakin dengan tambahan Deputi III pos Opsus di bawah Brigjen. Ali Moertopo. Sebagai inner circle Soeharto, Opsus dipandang paling prestisius di Bakin, mulai dari urusan domestik Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) Irian Barat dan kelahiran mesin politik Golongan Karya (Golkar) sampai masalah Indocina.

Tahun 1983, sebagai Wakil Kepala BAKIN, L.B. Moerdani memperluas kegiatan intelijen menjadi Badan Intelijen Strategis (Bais). Selanjutnya Bakin tinggal menjadi sebuah direktorat kontra-subversi dari Orde Baru.

Setelah mencopot L.B. Moerdani sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan (Menhankam), tahun 1993 Soeharto mengurangi mandat Bais dan mengganti nama menjadi Badan Intelijen ABRI (BIA).

Tahun 2000 Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengubah Bakin menjadi Badan Intelijen Negara (BIN) sampai sekarang. 


Organisasi intelijen negara telah berganti nama sebanyak 6 (enam) kali:
  1. BRANI (Badan Rahasia Negara Indonesia).
  2. BKI (Badan Koordinasi Intelijen).
  3. BPI (Badan Pusat Intelijen).
  4. KIN (Komando Intelijen Negara).
  5. BAKIN (Badan Koordinasi Intelijen Negara).
  6. BIN (Badan Intelijen Negara).

Struktur organisasiStruktur organisasi BIN telah diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 52/2005. Berdasarkan Perpres tersebut BIN dipimpin oleh seorang Kepala BIN dibantu oleh seorang Wakil Kepala, satu Sekretariat Utama yang dipimpin oleh seorang Sekretaris Utama, satu Inspektorat Utama (dikepalai oleh seorang Inspektur Utama), lima Deputi dan lima orang Staf Ahli.

Di Indonesia khusus untuk LPND (Lembaga Pemerintahan Non Departemen) telah ditetapkan standar nomenklatur Sekretaris Utama (menyerupai fungsi Sekjen Departemen) dan Inspektur Utama (fungsinya menyerupai Irjen Depertemen). Selengkapnya struktur organisasi BIN adalah :

• Kepala
• Wakil Kepala
• Sekretariat Utama
• Deputi Bidang Luar Negeri
• Deputi Bidang Dalam Negeri
• Deputi Bidang Kontra Intelijen
• Deputi Bidang Pengolahan dan Produksi
• Deputi Bidang Teknologi
• Inspektorat Utama
• Staf Ahli Bidang Politik
• Staf Ahli Bidang Ekonomi
• Staf Ahli Bidang Hukum
• Staf Ahli Bidang Sosial Budaya
• Staf Ahli Bidang Pertahanan dan Keamanan


Tugas pejabat BINKepala BIN adalah pejabat negara setingkat Menteri.
Daftar Kepala BIN
Pangkat Nama Awal masa jabatan Akhir masa jabatan Keterangan
Jend. (Purn.) A.M. Hendropriyono 2001 2004 Kabinet Gotong Royong May. Jend. (Purn.) Syamsir Siregar 8 Desember 2004 22 Oktober 2009 Kabinet Indonesia Bersatu I Jend.Polisi (Purn.) Sutanto 22 Oktober 2009 Sedang menjabat Kabinet Indonesia Bersatu II


Daftar Kepala BIN adalah sebagai berikut:
Nama Awal masa jabatan Akhir masa jabatan Keterangan
A.M. Hendropriyono 2001 2004
Syamsir Siregar 8 Desember 2004 22 Oktober 2009
Sutanto 22 Oktober 2009 19 Oktober 2011
Marciano Norman 19 Oktober 2011 Sedang menjabat
1. A.M.Hendropriyono
Tempat Tanggal Lahir : Yogyakarta 07 Mei 1945
Angkatan : 1967
Kesatuan : Infanteri – Baret Merah
Pangkat Terkahir Militer Aktif : Letnan Jenderal TNI
Jabatan Terakhir Militer : Komandan KODIKLAT
Keterangan : Jenderal Kehormatan
Karir
Kolonel :
Asisten Intelejen Kepala Staf Daerah Militer Jaya
Komandan Resort Militer 043 Garuda Hitam Lampung
Brigadir Jenderal :
Direktur D Badan Intelijen dan Strategis (BAIS) ABRI
Mayor Jenderal :
Panglima Daerah Militer Jaya
Letnan Jenderal :
Komandan KODIKLAT

2.Mayjen (Purn) Syamsir Siregar
Lahir di Pematang Siantar, Sumatra Utara, 23 Oktober 1941. Alumni Akademi Militer Nasional 1965, Pangkat Terkahir Militer Aktif adalah Mayor Jenderal TNI dan Jabatan Terakhir Militer dan Kepala Badan Intelejen TNI. Sekarang sebagai Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Berdasarkan kepada Keputusan Presiden Nomor 197/M/2004 tanggal 29 November 2004, dan dilantik Presiden Yudhoyono, Rabu 8 Desember 2004.
Karir:
  • Kolonel:Komandan Brigade Infanteri 9/Kostrad Jember
  • Komandan Brigade Infanteri Kodam Jaya
  • Komandan Resort Militer 142 pare-pare
  • Kepala Staf Divisi Infanteri I/Kostrad
  • Brigadir Jenderal:Kepala Staf Daerah Militer III/Siliwangi
  • Mayor Jenderal:Panglima Daerah Militer II/Sriwijaya
  • Kepala Badan Intelejen ABRI


  • 3.Jenderal Polisi (Purn) Drs. Sutanto
    Tempat/Tanggal Lahir Comal, Pemalang, Jawa Tengah, Indonesia, 30 September 1950.
    BIOGRAFI:Jenderal Polisi  (Purn) Drs. Sutanto adalah Kepala Badan Intelijen Negara Indonesia  sejak 22 Oktober 2009. Sebelumnya ia adalah Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia sejak 8 Juli 2005 hingga 30 September 2008.

    Sutanto juga pernah menjadi ajudan Presiden Soeharto pada tahun 1995–1998, Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sumatra Utara (2000), dan Kapolda Jawa Timur (17 Oktober 2000-Oktober 2002).

    Bahkan lulusan Akabri tahun 1973 ini sebelumnya adalah Kepala Badan Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Narkotika Nasional.
    Karier Sebagai Kapolri:
    • pencanangan pemberantasan perjudian pada 100 hari pertama menjabat yang terhitung sukses dalam pelaksanaannya
    • dibunuhnya buronan terorisme asal Malaysia, Dr. Azahari
    • pengungkapan identitas para pelaku Bom Bali 2005
    • penyelesaian kasus penyuapan saat penanganan kasus pembobolan Bank BNI, dengan tersangka Brigjen Ismoko, Komisaris Besar Irman Santosa dan Komisaris Jendral Suyitno Landung
     Karier
    • Kepala BIN (2009)
    • Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (2005)
    • Kepala Badan Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Narkotika Nasional (0)
    • Ajudan Presiden Soeharto (1995)
    • Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sumatra Utara (2000)
    • Kapolda Jawa Timur (2000)
    • Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri (2002)
    • Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional (2005)
    • Kapolri (2005)
    • Komisaris Utama PT Pertamina (2009)
    4.Letjen.Marciano Norman
    Tempat Tanggal Lahir : Banjarmasin 20 Oktober 1954
    Angkatan : 1978
    Kesatuan : Kavaleri
    Pangkat Terkahir Militer Aktif : Letnan Jenderal TNI
    Jabatan Terakhir Militer : Kepala Badan Intelejen Negara (BIN)
    Karir
    Kolonel :
    Asisten Operasi Kasdam Jaya – Jakarta
    Komandan Korem 121/ABW – Pontianak
    Brigadir Jenderal :
    Direktur Analisa Lingkungan Strategis Dirjen Strategi Pertahanan Departemen Pertahanan-Jakarta
    Mayor Jenderal :
    Komandan Pasukan Pengaman Presiden – Jakarta
    Panglima Daerah Militer Jaya
    Letnan Jenderal :
    Komandan Kodiklat
    kepala Badan Intelejen Negara


     Tugas kepala BIN:

    • memimpin BIN sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku
    • menyiapkan kebijakan nasional dan kebijakan umum sesuai dengan tugas BIN
    • menetapkan kebijakan teknis pelaksanaan tugas BIN yang menjadi tanggung jawabnya
    • membina dan melaksanakan kerja sama dengan instansi dan organisasi lain

    Wakil Kepala
    mempunyai tugas membantu Kepala dalam melaksanakan tugas memimpin

    Sekretariat Utama
    mempunyai tugas mengkoordinasikan perencanaan, pembinaan, pengendalian administrasi, dan sumber daya di lingkungan BIN

    Deputi Bidang Luar Negeri
    mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan dibidang operasional penyelidikan yang beraspek luar negeri

    Deputi Bidang Dalam Negeri
    mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan dibidang operasional

    Deputi Bidang Kontra Intelijen
    mempunyai tugas melaksanakan perumusan kebijakan dan pelaksanaan dibidang kontra intelijen Memberikan arahan dan tugas di bidang kontra intelijen baik didalam maupun diluar negeri

    Inspektorat Utama
    mempunyai tugas melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas dilingkungan BIN.

    Staf Ahli Bidang Politik
    mempunyai tugas memberi telaahan mengenai masalah politik

    Ahli Bidang Ekonomi
    mempunyai tugas memberi telaahan mengenai masalah ekonomi dan politik

    Staf Ahli Bidang Hukum
    mempunyai tugas memberikan telaahan mengenai masalah Hukum

    Staf Ahli Bidang Sosial Budaya
    mempunyai tugas memberikan telaahan mengenai masalah sosial budaya termasuk bidang arsitektur yang merupakan seni dalam budaya indonesia.

    Staf Ahli Bidang Pertahanan dan Keamanan
    mempunyai tugas memberikan telaahan mengenai masalah pertahanan dan keamanan.

    Tidak ada komentar:

    Poskan Komentar